Minggu, 17 Mei 2015

Pengalaman Hari Ini dengan Bapak Tukang Sol

Panas sekali hari ini.Serasa matahari diatas kepala.Sejak tadi aku perhatikan bapak tukang sol keliling itu berkali-kali mengelap keringatnya.Ada 2 sepatu dan 1 sandal yang sedang diperbaikinya.Sepatuku serta sepatu dan sandal kepunyaan anakku.
Aku suguhkan segelas air dingin untuknya.Tidak sampai 1 menit gelas itupun langsung kosong.Ketika aku tawarkan mengisi air lagi gelasnya yang sudah kosong,bapak itu menolak halus.
"Terima kasih,Neng.Sudah cukup."katanya
Sementara si bapak sibuk mengesol sepatuku,mataku selalu memperhatikannya.Setiap hari tak peduli hujan serta panas dia tempuh lorong-lorong gang sambil berteriak "solpatuuu".Begitu kira-kira bunyinya.Sampai sandal yang dia pakaipun menipis tak dirasa.
"Bapak tinggal dimana?Anak bapak ada berapa?Masih ada yang masih kecilkah?"Tanyaku ingin tahu.
"Bapak tinggal di Bogor.Kesininya naik kereta.Istri sudah meninggal setahun yang lalu.Ada anak 4 yang kecil umur 3 tahun diasuh kakaknya yang paling besar."Jawabnya.
"Ooh,maaf ya pak.Bukan maksud saya....Yang pasti Allah sayang sama istri bapak.Mudah-mudahan anak-anak bapak sehat semua ya."
"Makasih,Neng."
Tak terasa pekerjaan si bapak pun selesai.Rapi juga hasil kerjanya.Rasanya tak sayang selembar uang merah bergambar Soekarno-Hatta milikku berpindah kepadanya.
"Ga usah dikembalikan,Pak.Buat anak-anak bapak."
Awalnya si bapak tak mau dan merogoh kantongnya mencari uang kembalian.Tapi aku tetap menolak.
Akhirnya si bapak pun berlalu.Tapi aku masih terus memikirkan si bapak itu.Mudah-mudahan berkah uang yang baru saja dia terima dariku..Aamiin

Peristiwa Pagi Hari

Kalo ingat peristiwa tadi pagi sebelum berangkat mengantar anakku sekolah aku jadi ketawa sendiri.
Setelah bebenah dan menyiapkan sarapan aku baru ingat Akhtar belum bangun. Biasanya dia sudah bangun dan ikut sholat subuh. Kali ini dia kesiangan.
Sementara waktu berjalan terus, jam sudah menunjukkan pukul 05.45wib. Ini sudah siang mengingat jarak tempuh dari rumah ke sekolah lumayan jauh sehingga mengharuskan kita berangkat lebih pagi. Biasanya jam segitu kita sudah selesai sarapan. Akhirnya pelan-pelan ku tuntun Akhtar ke kamar mandi dalam keadaan mata tertutup. Lalu kubuka baju dan celananya. Kemudian kusiram tubuhnya perlahan.
Akhtar kaget dan langsung berteriak."Ayo astronot, maju terus". katanya sambil tangannya diacungkan keatas.

Langsung kujawab "Astronotnya sudah pergi dek,sekarang waktunya berangkat sekolah"
Mendengar suaraku rupanya Akhtar terbangun.Selesai mandi sambil memasang baju seragam sekolahnya, Akhtar bilang begini,"Bu, Akhtar kan lagi ngobrol sama astronot. Kenapa dibangunkan? Sekarang astronotnya jadi hilang".
"Ntar malam kan Akhtar bisa mimpi lagi.Sekarang waktunya berangkat sekolah".
"Tapi mimpinya pasti lain lagi.Astronotnya sudah ga ada".
Aku hanya tersenyum mendengarnya sembari bersiap-siap berangkat mengantarnya sekolah.
Anak-anak adalah masanya berimajinasi. Biarkan dia mengembangkan sendiri bagaimana dan seperti apa astronot itu. Seperti cita-citanya yang ingin keluar angkasa.
Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang dilangit, anakku. Tugas ayah dan ibu adalah berusaha untuk membimbingmu kearah cita-cita itu