Hari Minggu aku diajak
suami kerumah temannya, seorang anggota Polres Kabupaten Subang. Awalnya
kupikir bertamu biasa karena suamiku hanya bilang kita mau kerumah pak Pendi, maka kusiapkanlah puding sebagai buah tangan. Ternyata kita ke kebunnya Pak
Pendi dan aku baru tau kalau mereka janjian papahare atau makan bersama. Klo
tau mau papahare, aku pasti menyiapkan bahan mentah buat dimasak, ngapain harus
cape bikin puding. Tapi ya sudahlah, akhirnya aku kebagian beli bumbu dapur. Tempat pembakaran ikan dan ayam sudah disipkan. Ikan gurame hasil mancing
dikolam,ayam yang diambil dari kandang langsung dipotong, jengkol dipetik
langsung dari pohon, semua masih segar-segar. Hmmm. Aku kebagian beli bahan buat sambel dan jangan
salah ikan asin tetap aja ada yang pesan. Tadinya aku mo beli pete karena sudah
ada jengkol akhirnya ga jadi. Takut baunya berlipat-lipat.Hahaha..
Acara makan bersama kami berlangsung dengan sangat nikmat. Klo
ga ingat bobot badan ingin rasanya nambah lagi dan lagi. Acara makan bersama
berakhir disambut hujan deras. Kita ga bisa kemana-mana selain hanya duduk di
saung sambil memandang ke kolam ikan, kandang ayam dan pepohonan disekitar
kebun. Kebunnya luas sekali yang konon adalah warisan orang tuanya. Saat itu
pikiranku melayang ke kampungku nun jauh di sebuah kampung kecil di Sumatera
Barat. Dulu waktu nenek dan kakekku masih ada semua kami cucunya punya hak yang
sama. Setahuku tidak ada seorangpun anak-anak nenek yang berani sok kuasa. Kami
dengan riang bermain dikebun disekeliling rumah.Ga berapa jauh dari belakang
rumah ada sawah. Dulu waktu kecil aku sering lari-larian dipematang sawah. Dan
kalau musim panen tiba aku sering bikin terompet dari batang padi. Ada juga
kolam ikan nenek yang terdapat disamping musholla. Kalau kami menyebutnya tabek ikan.
Tapi kini, semua hanya tinggal kenangan masa laluku. Setelah sekian
lama kepergian nenek, keadaan jadi berubah. Karena masing-masing merasa dia
yang punya rumah itu.Sekarang ibuku terpinggirkan seolah jadi orang kecil tak
dianggap. Bagi kami itu tidak jadi masalah asalkan ibu masih tetap sehat dan
nanti bisa punya rumah sendiri di Jakarta. Sekarang, kalaupun aku pulang ke
kampungku itu sudah tidak ada tempat bermalam bagiku. Mungkin hanya bisa
bermalam dikamar yang berbayar dan itupun ada dikota.
Rumah nenek adalah tempat aku dilahirkan. Tempat bersejarah yang
mungkin tidak akan pernah kulupakan. Aku amat sangat hafal setiap sudut rumah
itu walaupun sudah berulang kali direnovasi. Tapi kini sudah menjadi barang
asing bagiku.
Sekarang jaman sudah berubah. Kalau orang lain pulang kampung
dengan senang hati, aku malah berkecil hati. Mungkin malah gigit jari melihat
tingkah orang-orang yang masih ada hubungan kekeluargaan denganku. Anakku tak
akan bisa menikmati seperti yang aku rasakan dulu, menikmati kebun sendiri, berlarian
dipematang sawah. Tapi Allah itu Maha Adil. Hari ini anakku bisa menikmatinya. Walaupun
itu dikebun orang lain. Tak terasa bulir airmata jatuh dipipiku. Airmata yang
kesekian kalau ingat semua itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar