Minggu, 22 November 2015

Cerita Minggu Siang

Hari Minggu aku diajak suami kerumah temannya, seorang anggota Polres Kabupaten Subang. Awalnya kupikir bertamu biasa karena suamiku hanya bilang kita mau kerumah pak Pendi, maka kusiapkanlah puding sebagai buah tangan. Ternyata kita ke kebunnya Pak Pendi dan aku baru tau kalau mereka janjian papahare atau makan bersama. Klo tau mau papahare, aku pasti menyiapkan bahan mentah buat dimasak, ngapain harus cape bikin puding. Tapi ya sudahlah, akhirnya aku kebagian beli bumbu dapur. Tempat pembakaran ikan dan ayam sudah disipkan. Ikan gurame hasil mancing dikolam,ayam yang diambil dari kandang langsung dipotong, jengkol dipetik langsung dari pohon, semua masih segar-segar. Hmmm. Aku kebagian beli bahan buat sambel dan jangan salah ikan asin tetap aja ada yang pesan. Tadinya aku mo beli pete karena sudah ada jengkol akhirnya ga jadi. Takut baunya berlipat-lipat.Hahaha..
Acara makan bersama kami berlangsung dengan sangat nikmat. Klo ga ingat bobot badan ingin rasanya nambah lagi dan lagi. Acara makan bersama berakhir disambut hujan deras. Kita ga bisa kemana-mana selain hanya duduk di saung sambil memandang ke kolam ikan, kandang ayam dan pepohonan disekitar kebun. Kebunnya luas sekali yang konon adalah warisan orang tuanya. Saat itu pikiranku melayang ke kampungku nun jauh di sebuah kampung kecil di Sumatera Barat. Dulu waktu nenek dan kakekku masih ada semua kami cucunya punya hak yang sama. Setahuku tidak ada seorangpun anak-anak nenek yang berani sok kuasa. Kami dengan riang bermain dikebun disekeliling rumah.Ga berapa jauh dari belakang rumah ada sawah. Dulu waktu kecil aku sering lari-larian dipematang sawah. Dan kalau musim panen tiba aku sering bikin terompet dari batang padi. Ada juga kolam ikan nenek yang terdapat disamping musholla. Kalau kami menyebutnya tabek ikan.
Tapi kini, semua hanya tinggal kenangan masa laluku. Setelah sekian lama kepergian nenek, keadaan jadi berubah. Karena masing-masing merasa dia yang punya rumah itu.Sekarang ibuku terpinggirkan seolah jadi orang kecil tak dianggap. Bagi kami itu tidak jadi masalah asalkan ibu masih tetap sehat dan nanti bisa punya rumah sendiri di Jakarta. Sekarang, kalaupun aku pulang ke kampungku itu sudah tidak ada tempat bermalam bagiku. Mungkin hanya bisa bermalam dikamar yang berbayar dan itupun ada dikota.
Rumah nenek adalah tempat aku dilahirkan. Tempat bersejarah yang mungkin tidak akan pernah kulupakan. Aku amat sangat hafal setiap sudut rumah itu walaupun sudah berulang kali direnovasi. Tapi kini sudah menjadi barang asing bagiku.
Sekarang jaman sudah berubah. Kalau orang lain pulang kampung dengan senang hati, aku malah berkecil hati. Mungkin malah gigit jari melihat tingkah orang-orang yang masih ada hubungan kekeluargaan denganku. Anakku tak akan bisa menikmati seperti yang aku rasakan dulu, menikmati kebun sendiri, berlarian dipematang sawah. Tapi Allah itu Maha Adil. Hari ini anakku bisa menikmatinya. Walaupun itu dikebun orang lain. Tak terasa bulir airmata jatuh dipipiku. Airmata yang kesekian kalau ingat semua itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar