Setiap pagi, ketika melepas suamiku berangkat kerja selalu ada rasa bersalah didalam hatiku. Aku tidak tahu itu perasaan bersalah apa. Yang kurasakan adalah pedih yang teramat sangat. Aku sedih karena belum bisa membantu suamiku dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga kami. Walaupun suami berkali-kali bilang bahwa tugas utamaku adalah mengasuh dan mendidik anak kami yang tinggal satu-satunya. Ada rasa yang teriris dalam sanubariku. Rasa malu pada diri sendiri. Maafkan aku, suamiku.
Sebetulnya banyak rencana dibenakku untuk melakukan usaha menambah penghasilan keluarga. Tapi selalu mentok soal modal. Aku yang memilih diam dirumah semenjak punya anak, artinya aku tidak boleh menyesali keputusan itu. Apalagi semenjak anak pertamaku meninggal , aku makin tidak bisa meninggalkan anak untuk bekerja di kantor. Sekarang anak laki-lakiku itu sudah kelas 2 SD.Bahagia rasanya melihat dia tumbuh sehat dan cerdas. Alhamdulillah, disekolah dia selalu rangking I. Kalau temannya ikut les ini,les itu maka anakku cukup belajar dengan aku,ibunya. Dengan kata lain aku adalah ibu sekaligus guru les dari anakku. Karena aku ingin total mengurusnya. Walau secapek apapun aku selalu menyempatkan waktu untuk mengajarinya setiap hari. Itu komitmenku.
Seiring berjalannya waktu kebutuhan hidup semakin meningkat,aku juga banyak keinginan. Ingin ini, ingin itu. Apalagi dalam pergaulan ada saja yang baru ditawarkan teman. Sehingga gaji suami terkadang banyak aku habiskan untuk hal-hal yang tidak perlu.
Aku sadari bahwa bertahun-tahun aku hanya menghabiskan gaji suamiku untuk hal-hal yang tidak penting lalu dimana pemikiranku? Sebagai orang yang disekolahkan orang tuaku hingga perguruan tinggi apa saja yang aku pikirkan selama ini? Ya Allah ampuni hamba-Mu ini.
Meskipun suamiku tidak sekalipun meminta atau menuntut aku ikut mencari uang tapi aku harus membantunya. Umur kami semakin bertambah,anak kami semakin besar .Tidak mungkin selamanya seperti ini. Aku harus berubah.Aku harus memasang mindset bahwa hari-hariku adalah hari-hari yang menghasilkan. Karena penghasilan suamiku tidaklah banyak. Apalagi suami bekerja di perusahaan swasta. Bagaimana masa tua kami nanti jika aku masih saja berpangku tangan.
Dalam setiap doaku yang aku panjatkan kepada Allah, aku memohon dikuatkan dan diberikan semangat untuk terus maju memulai usaha apa saja, yang penting bisa menghasilkan uang. Harapanku semoga Allah SWT mendengar pintaku sehingga kelak terwujud apa yang kuinginkan. Aamiin.
Aku sadari bahwa bertahun-tahun aku hanya menghabiskan gaji suamiku untuk hal-hal yang tidak penting lalu dimana pemikiranku? Sebagai orang yang disekolahkan orang tuaku hingga perguruan tinggi apa saja yang aku pikirkan selama ini? Ya Allah ampuni hamba-Mu ini.
Meskipun suamiku tidak sekalipun meminta atau menuntut aku ikut mencari uang tapi aku harus membantunya. Umur kami semakin bertambah,anak kami semakin besar .Tidak mungkin selamanya seperti ini. Aku harus berubah.Aku harus memasang mindset bahwa hari-hariku adalah hari-hari yang menghasilkan. Karena penghasilan suamiku tidaklah banyak. Apalagi suami bekerja di perusahaan swasta. Bagaimana masa tua kami nanti jika aku masih saja berpangku tangan.
Dalam setiap doaku yang aku panjatkan kepada Allah, aku memohon dikuatkan dan diberikan semangat untuk terus maju memulai usaha apa saja, yang penting bisa menghasilkan uang. Harapanku semoga Allah SWT mendengar pintaku sehingga kelak terwujud apa yang kuinginkan. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar